BAB 2

 

 

 

A. SOSIOLOGI EKONOMI

 

            Sosiologi Ekonomi mempelajari berbagai macam kegiatan yang sifatnya kompleks dan melibatkan produksi, disribusi, pertukaran dan konsumen barang dan jasa yang bersifat langka dalam masyarakat.

Jadi, fokus analisis untuk Sosiologi Ekonomi adalah pada kegiatan ekonomi, dan mengenai hubungan antara variable-variabel sosiologi yang terlibat dalam konteks non-ekonomis.

Pola dan sistem yang berlaku dalam mekanisme pasar, interaksi ekonomi yang dilakukan antar individu dan masyarakat, sebenarnya berawal dari hubungan yang sederhana antara individu dan masyarakat (interaksi sosial) dalam rangka mengatasi kelangkaan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, ekonomi tidak dapat dipisahkan dari aspek sosial. Bahkan aktivitas ekonomi selalu melekat dalam sosialitas tempat kejadian ekonomi itu berlangsung. Begitupun berlaku yang sebaliknya.

Proses produksi dalam pandangan sosiologis ternyata memiliki peran yang cukup vital dalam rangka mempertahankan eksistensi (keberadaan) sebuah masyarakat. Proses produksi dilihat sebagai institusi ekonomi berperan untuk mengadakan kebutuhan-kebutuhan ekonomis sebuah masyarakat. Oleh karena itu, proses produksi tidak hanya dilihat dari segi ekoomis tetapi juga sosiologis yang mempunyai peran subsistem dalam sebuah struktur masyarakat.

Dalam proses distribusi atau pertukaran terlihat proses relasi antara rumah tangga produksi dan rumah tangga konsumsi. Sebenarnya bukan dalam hal distribusi barang hasil produksi saja proses ini terlihat tetapi ketika rumah tangga konsumsi menyediakan faktor-faktor produksi pun proses ini sudah terlihat yaitu distribusi faktor-faktor produksi yang meliputi: sumber daya alam, sumber daya manusia, dan modal. Dengan mencermati proses distribusi kita bisa melihat secara sosiologis bagaimana kegiatan masyarakat berkegiatan dalam bidang ekonomi. Dalam proses inilah yang merupakan relasi antara permintaan dan penawaran kita semakin melihat manusia sebagai makhluk ekonomis dan juga makhluk sosial.

 

 

A.1 PENGERTIAN SOSIOLOGI EKONOMI

 

            Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte (1798-1857). Walaupun banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat.

Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum. (http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi)

Sosiologi ekonomi, menurut yang diperkenalkan oleh Weber dan Durkheim, dapat secara sederhana didefinisikan sebagai perspektif sosiologi yang diterapkan dalam fenomena sosiologi. Pengertian yang sama tetapi lebih terperinci yaitu aplikasi dari bagian referensi, variabel dan penjelasan model sosiologi dalam perhatiannya kepada produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi dari barang ekonomi (langka) dan jasa.

(Zulfikri, http://myfikr.wordpress.com/2010/08/17/pengenalan-sosiologi-ekonomi/)

 

 

A.2 KONSEP ILMU EKONOMI

 

Ekonomi yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan alat pemenuh kebutuhan yang terbatas. Dari pengertian tersebut memunculkan masalah-masalah Ekonomi, motif Ekonomi dan tindakan Ekonomi.

a.       Masalah-masalah Ekonomi memiliki beberapa faktor, antara lain:

•         Faktor Ekonomi

•         Faktor Sosial-Budaya

•         Faktor Fisik

•         Faktor Pendidikan

b.      Motif Ekonomi mencakup antara lain; motif internal(autonomous) dan

•         Motif eksternal(mobilized), selain itu juga ada motif-motif lainnya, yaitu:

•         Memenuhi kebutuhan

•         Motif keuntungan

•         Motif penghargaan

•         Motif kekuasaan

•         Motif sosial: yang mencakup tiga poin, yaitu Integrasi sosial, struktur sosial, dan juga status sosial. Integrasi sosial diindikasikan dengan adanya asimilasi, akulturasi, dan kooperasi dimana akan terjadi pembauran nilai-nilai yand ada pada masyarakat.

c.       Dari adanya motif-motif di atas akan menimbulkan tindakan Ekonomi yang di bedakan menjadi 2, yaitu:

•         Tindakan Rasional

•         Tindakan Irrasional

Berdasarkan teori kebutuhanMaslow, kebutuhan sendiri memiliki beberapa  tingkatan, yaitu:

a.        Kebutuhan Fisiologis dasar

b.      Kebutuhan rasa aman dan tentram

c.       Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi

d.      Kebutuhan untuk dihargai

e.       Kebutuhan untuk aktualisasi diri.

(Kelompok Sosial, http://www.scribd.com/doc/21625531/sosiologi-ekonomi)

 

 

A.3 ILMU SOSIOLOGI EKONOMI DAN PERKEMBANGANNYA

 

Ilmu Sosiologi Ekonomi oleh Max Weber dan Emile Durkheim didefinisikan sebagai fenomena ekonomi yang dilihat dari perspektif Sosiologi. Smelser menambahkan tentang perspektif sosiologi dari interaksi personal, kelompok, struktur sosial (kelembagaan), dan kontrol sosial( yang terdiri dari sanksi-sanksi, norma-norma, dan yang paling utama adalah nilai-nilai). Sosiologi Ekonomi mempelajari berbagai macam kegiatan yang sifatnya kompleks dan melibatkan produksi, distribusi, pertukaran dan konsumen barang dan jasa yang bersifat langka dalam masyarakat. Yang fokus pada kegiatan Ekonomi, dan mengenai hubungan antara variable-variabel sosiologi yang terlibat dalam konteks non-Ekonomis. Pola dan sistem yang berlaku dalam mekanisme pasar-interaksi Ekonomi yang dilakukan oleh antar individu dan masyarakat-sebenarnya berawal dari hubungan yang sederhana antara individu dan masyarakat (interaksi sosial) dalam rangka mengatasi kelangkaan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, Ekonomi tidak dapat dipisahkan dari aspek sosial. Bahkan aktivitas Ekonomi selalu melekat dalam sosialitas tempat kejadian Ekonomi itu berlangsung.

Meskipun sosiologi juga menempatkan manusia dan masyarakat sebagai objek material bersama dengan Ekonomi namun sosiologi memiliki perangkat dan wilayah analisis yang berbeda dengan ilmu Ekonomi. Sosiologi berusaha memberikan kategorisasi, diferensiasi, simplifikasin dan generalisasi terhadap fakta sosial yang diamati. Dengan demikian dapat disusun variabel-variabel yang dapat dioperasionalisasikan dalam analisis. Elemen-elemen observasinya berupa regularitas, orientasi sosial individu dan kelompok, struktur sosial, sanksi-sanksi, norma-norma, dan nilai-nilai..

Ilmu ekonomi sosiologi mencapai puncaknya pada tahun 1890-1920 dengan tokoh-tokoh klasik, dan juga pada awal 1980an hingga sekarang, di mana tetap menggabungkan antara analisa ekonomi dengan analisa hubungan-hubungan sosial.

Berikut ini adalah beberapa tokoh ahli Ekonomi Sosiologi Klasik antara lain:

a.       Karl Marx(1818-1883).

Beliau berpendapat daya tarik materi juga menentukan struktur dan proses dalam masyarakat. Poin utama yang di angkat oleh Marx adalah tenaga kerja dan produksi, tiap orang harus bekerja untuk bertahan hidup. Marx sering mengkritik Adam Smith atas teori Invisible Hand-nya.

b.      2.Max Weber(1864-1920). Beliau banyak sekali menghasilkan tulisan – tulisan, seperti yang paling terkenal antara lain The protestant ethic and the spirit of capitalism,dan Economy and Society.

c.       Emile Durkheim(1858-1917). Tidak seperti Weber, Emile tidak banyak mengetahui tentang ilmu ekonomi, tidak banyak membuat tulisan dan tidak memberikan kontribusi yang banyak pada Sosiologi Ekonomi. Pada bukunya The Division of Labor in society yang memiliki banyak keterkaitan pada Sosiologi Ekonomi, di mana pada buku tersebut di sebutkan bahwa perubahan struktur sosial sebagaimana perkembangan masyarakat dari status yang tidak dibedakan pada masa primodialisme untuk sebuah langkah yang dikarakteristikkan dengan pembagian tenaga kerja yang kompleks pada dunia yang modern.

d.      Goerg Simmel(1858-1918). Fokus pada analisa-analisa ketertarikan. Biasanya menunjukkan fenomena ekonomi diantara yang lebih luas cakupannya.

Sementara tokoh-tokoh setelah era Klasik antara lain:

a.       Joseph Schumpeter(1883-1950).

b.      Karl Polanyi(1886-1964).

c.       Talcott Parsons(1902-1979).

Sejak masa penerapan ilmu Sosiologi Ekonomi sebagai salah satu pilihan dalam menjelaskan perilaku masyarakat pada umumnya, memberikan manfaat kepada ahli sosiologi pada praktiknya secara luas, selain analisa ekonomi yang sesuai.

(Hendramulyadi,Dicky,http://dickyhendramulyadi.blog.com/2011/01/09/sosiologiekonomi/)

 

 

B KELOMPOK SOSIAL

B.1 MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG HIDUP BERKELOMPOK

 

Manusia adalah makhluk hidup yang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sebagai makhluk biologis dan makhluk sosial. Sebagai makhluk biologis, makhluk manusia atau “homo sapiens”, sama seperti makhluk hidup lainnya yang mempunyai peran masing-masing dalam menunjang sistem kehidupan. Sebagai makhluk sosial, manusia merupakan bagian dari sistem sosial masyarakat secara berkelompok membentuk budaya.

Manusia pada umumnya dilahirkan seorang diri, akan tetapi dia adalah makhluk yang telah mempunyai naluri untuk hidup dengan manusia lain. Naluri yang dinamakan gregariousness dan karena itu manusia juga disebut social animal, hewan yang senantiasa mempunyai naluri untuk hidup bersama. Karena sejak dilahirkan manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok, yaitu :

  1. Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain disekelilingnya (masyarakat).
  2. Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.

 

 

B.2 PENDEKATAN SOSIOLOGIS TERHADAP KELOMPOK-KELOMPOK SOSIAL

 

Manusia banyak berhubungan dengan kelompok sosial, baik yang kecil seperti kelompok keluarga, ataupun kelompok besar seperti masyarakat desa, masyarakat kota, bangsa dan lain. hampir semua manusia merupakan kelompok sosial yang dinamakan keluarga. Walaupun anggotanya menyebar, tapi pada waktu tertentu mereka pasti akan berkumpul. Bila mereka berkumpul, terjadilah tukar-menukar pengalaman di antara mereka. Pada saat demikian, terjadi bukanlah pertukaran pengalaman semata, akan tetapi para anggota keluarga tersebut mungkin telah mengalami perubahan-perubahan, walaupun sama sekali tidak disadari. Saling tukar menukar pengalaman mempunyai peranan besar di dalam pembentukan kepribadian orang-orang yang bersangkutan. Manusia merupakan makhluk yang tediri dari jasmaniah dan rohaniah. Manusia mempunyai naluri untuk senantiasa berhubungan dengan sesamanya. Manusia mempunyai pola berpikir yang akan mempengaruhi sikapnya.

(Herliandita, Septha Yudha, http://septha49.wordpress.com/2008/06/27/kelompok-kelompok-sosial-dan-kehidupan-masyarakat/)

 

 

B.3 PENGERTIAN KELOMPOK SOSIAL

 

Kelompok sosial adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat. Kelompok juga dapat memengaruhi perilaku para anggotanya.

Menurut George Homans, kelompok adalah kumpulan individu yang melakukan kegiatan, interaksi dan memiliki perasaan untuk membentuk suatu keseluruhan yang terorganisasi dan berhubungan secara timbal balik.

Menurut Soerjono Soekanto, kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan yang hidup bersama karena adanya hubungan di antara mereka secara timbal balik dan saling mempengaruhi.

Sedangkan menurut Hendro Puspito, kelompok sosial adalah suatu kumpulan nyata, teratur dan tetap dari individu-individu yang melaksanakan peran-perannya secara berkaitan guna mencapai tujuan bersama.

Menurut Soerjono Soekanto, suatu himpunan manusia dikatakan kelompok sosial apabila memenuhi persyaratan berikut ini :

1.      Setiap anggota kelompok memiliki kesadaran bahwa dia bagian dari kelompok tersebut.

2.      Memiliki struktur sosial sehingga kelangsungan hidup kelompok tergantung pada kesungguhan para anggotanya dalam melaksanakan perannya.

3.      Memiliki norma-norma yang mengatur hubungan diantara para anggotanya.

4.      Memiliki kepentingan bersama.

5.      Adanya interaksi dan komunikasi diantara anggotanya.

 

B.3.1 CIRI-CIRI KELOMPOK SOSIAL

 

Ciri-ciri kelompok sosial tersebut adalah sebagai berikut :

1.      Merupakan satuan yang nyata dan dapat dibedakan dari kesatuan manusia yang lain.

2.      Memiliki struktur sosial, yang setiap anggotanya memiliki status dan peran tertentu.

3.      Memiliki norma-norma yang mengatur di antara hubungan para anggotanya.

4.      Memiliki kepentingan bersama

5.      Adanya interaksi dan komunikasi diantara para anggotanya.

            Maka kelompok sosial dapat dibedakan ke dalam dua bentuk, yaitu kelompok sosial kecil dan kelompok sosial besar.

 

 

B.3.2 DASAR PEMBENTUKAN KELOMPOK SOSIAL

1.      Faktor kepentingan yang sama (Common Interest)

2.      Faktor darah / keturunan yang sama (Common in Cestry)

3.      Faktor geografis

4.      Faktor daerah asal yang sama

B.3.3 PROSES PEMBENTUKAN KELOMPOK SOSIAL

1.      Faktor-faktor Pendorong Timbulnya Kelompok Sosial

a.       Dorongan untuk mempertahankan hidup

b.      Dorongan untuk meneruskan keturunan

c.       Dorongan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja

2.      Dasar Pembentukan Kelompok Sosial

a.       Kesatuan Genealogis atau Faktor Keturunan

b.      Kesatuan Religius

c.       Kesatuan Teritorial (Community)

d.      Kesatuan Kepentingan (Asosiasi)

B.3.4 TIPE-TIPE KELOMPOK SOSIAL

            Tipe-tipe kelompok sosial yang diklasifikasikan dari beberapa sudut atau dasar :

1.      Besar kecilnya jumlah anggota,

2.      Derajat interaksi sosial,

3.      Kepentingan dn wilayah,

4.      Berlangsungnya suatu kepentingan,

5.      Derajat organisasi,

6.      Kesadaran akan jenis yang sama, hubungan sosial dan tujuan.

7.      Tipe-tipe umum yang terdapat dalam kelompok sosial yaitu ;

  1. Kategori statistik; pengelompokan atas dasar ciri tertentu yang sama, seperti kelompok umur.
  2. Kategori sosial; kelompok individu yang sadar akan ciri-ciri yang dimiliki bersama. Misalnya ikatan  dokter indonesia.
  3. Kelompok sosial seperti misalnya keluarga batih.
  4. Kelompok tidak teratur; yakni berkumpulnya orang-orang di satu tempat pada waktu yang sama, karena pusat perhatian yang sama. Misalnya, sekumpulan orang yang sedang anti karcis kereta api.
  5. Organisasi formal; setiap kelompok yang sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu, dan telah ditentukan lebih dahulu. Contohnya, birokrasi.

 

 

B.3.5 MACAM – MACAM KELOMPOK SOSIAL

 

a.       Kelompok Sosial yang Teratur

1.      Dilihat dari besar kecilnya anggota, yaitu:

  • In – Group

Kelompok sosial yang para individu anggota kelompok sosial yang bersangkutan     mengidentifikasikan dirinya dengan kelompoknya.

Contoh: Andi anggota club basket Sixty maka ia akan mendukung keberhasilan timnya.

  • Out – Group

Kelompok sosial yang oleh individu diartikan sebagai lawan in-groupnya.

Contoh :  Tomi bukan anggota club basket Sixty,dia anggota club basket Fire, maka             Andi akan menganggap Tomi dan kawan-kawannya sebagai Out – Group nya.

2.      Dilihat dari derajat interaksi sosial, yaitu:

  • Kelompok Primer (Primary Group) atau Face to Face Group.

Merupakan kelompok sosial yang paling sederhana, di mana anggota-anggotanya saling mengenal dan ada kerja sama  yang erat dalam kelompok sosialnya.

Contoh : Keluarga.

  • Kelompok-kelompok yang terdiri dari banyak orang. Hubungan antarindividu pada anggota kelompok masing- masing  tidak perlu didasarkan pengenalan secara pribadi dan sifatnya juga tidak begitu
    langgeng.

Contoh : Orang jual- beli di pasar.

3.      Dilihat dari kepentingan wilayah, yaitu:

  • Paguyuban (Gemeinschaft)

Bentuk kehidupan bersama,di mana anggota-anggotanya oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal.

Ciri – ciri paguyuban, yaitu :

a)      Intim yaitu hubungan menyeluruh yang mesra.

b)      Privat, yaitu hubungan yang bersifat pribadi atau khusus untuk beberapa orang saja.

c)      Ekslusif, yaitu hubungan  tersebut hanyalah untuk anggota dan tidak untuk orang-orang lain di luar anggota.

Ada tiga tipe paguyuban  yaitu karena darah (keturunan), tempat tinggal    dan jiwa pikiran (ideologi). Contoh paguyuban dapat    kita   lihat dalam  suatu rukun tetangga (RT).

  • Patembayan (Gesselscaft)

Kelompok sosial yang memiliki ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek sementara.

a)      Impersonal, yaitu hubungan keanggotaan sebatas kepentingan.

b)      Kontraktual, yaitu ikatan antaranggota berdasarkan perjanjian semata.

c)      Realistis dan ketas, yaitu hubungan antaranggotanya tidak akrab dan mengutamakan untung rugi. Contoh patembayan adalah ikatan pedagang kaki lima.

4.      Dilihat dari berlangsungnya suatu kepentingan, yaitu:

  • Formal Group

Kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antara sesamanya.

Contohnya seperti  Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)

  • Informal Group

Tidak mempunyai struktur dan organisasi tertentu atau yang pasti.

Contohnya seperti sekelompok remaja yang sedang berkumpul.

5.      Dilihat dari derajat organisasi, yaitu:

  • Membership Group

Merupakan suatu kelompok di mana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut.

Contohnya seperti individu dalam suatu suku bangsa.

  • Reference Group

Kelompok-kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang (bukan anggota kelompok tersebut) untuk membentuk pribadi dan perilakunya.

Contohnya seperti seseorang yang tidak berhasil menjadi Polisi maka ia akan tetap berpenampilan dan bertingkah laku sebagai anggota Polisi.

b.      Kelompok Sosial yang Tidak Teratur

1.      Kerumunan (Crowd)

Yaitu individu yang berkumpul secara bersamaan serta kebetulan di suatu tempat dan juga pada waktu yang bersamaan. Kerumunan jelas tidak terorganisasi: ia dapat mempunyai pimpinan, akan tetapi ia tidak mempunyai sistem pembagian kerja maupun sistem pelapisan sosial. Artinya: pertama-tama adalah bahwa interaksi di dalamnya bersifat spontan dan tidak terduga, dan kedua adalah bahwa orang-orang yang hadir dan berkumpul mempunyai kedudukan sosial yang sama.Identitas sosial seseorang biasanya tenggelam apabila orang yang bersangkutan ikut serta dalam suatu kerumunan.

Bentuk umum kerumunan sebagai berikut :

  • Kerumunan berartikulasi dengan struktur sosial :

–          Khalayak penonton atau pendengar yang formal (formal audiences) merupakan kerumunan-kerumunan yang mempunyai pusat perhatian dan persamaan tujuan akan tetapi sifatnya pasif, misalnya penonton bioskop.

–          Kelompok ekspresif yang telah direncanakan (planned expressive group), adalah kerumunan yang pusat perhatiannya tak begitu penting akan tetapi mempunyai persamaan tujuan yang tersimpul dalam aktifitas kerumunan tersebut serta kepuasan yang dihasilkannya, misalnya orang yang berdansa.

  • Kerumunan yang bersifat sementara (casual crowds)

–          Kumpulan yang kurang menyenangkan adalah orang-orang yang antri karcis, orang-orang menunggu bis dan sebagainya.

–          Kerumunan orang-orang yang sedang dalam keadaan panik (panic crowds), yaitu orang-orang yang bersama-sama berusaha   menyelamatkan diri dari suatu bahaya, misalnya lari karena ada gempa.

–          Kerumunan penonton (spectator crowds), yaitu kerumunan yang terjadi karena orang-orang ingin melihat suatu kejadian   tertentu, misalnya menonton korban kecelakaan.

  • Kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum (lawles crowds):

–          Kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs).

Kerumunan-kerumunan semacam ini bertujuan untuk mencapai suatu tujuan  tertentu dengan mempergunakan kekuatan fisik yang berlawanan dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

–          Kerumunan yang bersifat immoral (immoral crowds), hampir sama  dengan kelompok-kelompok ekspresif, akan tetapi bedanya adalah bahwa yang utama bertentangan dengan norma-norma dalam masyarakat.

2.      Publik

Berbeda dengan kerumunan, publik  merupakan kelompok yang tidak merupakan suatu kesatuan. Interaksi antarindividu terjadi secara tidak langsung melalui alat komunikasi seperti misalnya pembicaraan-pembicaraan secara pribadi yang berantai, desas-desus, surat kabar, radio, televisi dan film.

3.      Kelompok-kelompok Kecil (Small Group)

Suatu kelompok secara teoritis terdiri paling sedikit dua orang yang saling berhubungan untuk memenuhi tujuan – tujuan tertentu dan menganggap hubungan itu penting bagi individu yang bersangkutan.

(http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/387/jbptunikompp-gdl-sangrajuli-19321-6-06.babv-l.pdf)

B.3.6 DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL

            Yaitu suatu proses perkembangan dan perubahan akibat adanya interaksi dan interdependensi baik antar anggota kelompok maupun antara suatu kelompok dengan kelompok lain.

Faktor-faktor pendorong dinamika sosial:

A. Faktor dari luar (Extern)

  1. Perubahan Sirkulasi Sosial

Disebabkan dari kemerdekaan wilayah, masuknya industrialisasi ke pertanian dan adanya temuan-temuan baru.

  1. Perubahan Situasi Ekonomi

Dapat menyebabkan suatu kelompok sosial berkembang, misalnya masyarakat perkotaan. Kelompok kekerabatan akan bergeser menjadi hubungan sosial berdasarkan kepentingan sehingga kelompok kekerabatan yang termasuk klasifikasi ke kelompok primer berubah menjadi kelompok kepentingan yang termasuk klasifikasi kelompok sekunder.

  1. Perubahan Situasi Politik

Seperti perubahan elit kekuasaan, perubahan kebijakan dan sebagainya. Menyebabkan perkembangan pada kelompok-kelompok sosial.

B. Faktor dari dalam (Intern)

  1. Adanya konflik antar anggota kelompok.
  2. Adanya perbedaan kepentingan.
  3. Adanya perbedaan paham

 

 

B.3.7 MASYARAKAT DESA DAN MASYARAKAT KOTA

 

Masyarakat (Community) adalah masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah (geografis) dengan batas-batas tertentu, dimana faktor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar diantara anggota, dibandingkan dengan interaksi dengan penduduk di luar batas wilayahnya.

Empat criteria untuk klasifikasi masyarakat, yaitu :

  1. Jumlah penduduk
  2. Luas, kekayaan, dan kepadatan penduduk daerah pedalaman
  3. Fungsi-fungsi khusus dari masyarakat setempat terhadap seluruh masyarakat
  4. Organisasi masyarakat setempat yang bersangkutan.

Desa adalah suatu wilaah yang masyarakatnya masih tradisional dan memiliki system pemerintahan terendah serta keasrian wilayah yang masih terjaga. Masyarakatnya masih kental dalam menjalankan adat istiadat setempat serta siatem kekerabatan yang  masih sangad dekat dan senang bergotong royong. Kehipupan masyarakatnya masih sederhana dan rata-rata pendidikan yang masih rendah serta mata pencarian masyarakatnya masih Homogen.

Sedangkan kota adalah suatu wilaah yang masyarakatnya sudah modren dan memiliki system pemerintahan yang lebih jelas. Masyarakatnya sudah berpola pikir lebih luas serta cenderung idividulisme. Kehipupan masyarakatnya yang mulai kompleks dan rata-rata pendidikan sudah tinggi serta mata pencarian masyarakatnya sudah heterogen.

Perbedaan masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan dapat ditunjukkan dalam tabel berikut:

 

Masyarakat Pedesaan

Masyarakat Perkotaan

Warga memiliki hubungan yang lebih erat

Jumlsh prnduduknya tidak tentu

Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar kekeluargaan

Bersifat indifidualistis

Umumnya hidup dari pertanian

Pekerjaan lebih bervariasi, lebih tegas batasannya dan lebih sulit mencari pekerjaan

Golongan orang tua memegang peranan penting

Perubahan sosial terjadi secara tepat, menimbulkan konflik antara golongan muda dengan golongan orang tua

Dari sudut pemerintahan, hubungan antara penguasa dan rakyat bersifat informal

Interaksi lebih disebabkan faktor kepentingan daripada faktor pribadi

Perhatian masyarakat lebih pada keperluan utama kehidupan

Perhatian lebih pada penggunaan kebutuhan hidup yang dikaitkan dengan masalah prestise

Kehidupan keagamaan lebih kental

Kehidupan keagamaan lebih longgar

Banyak berurbanisasi ke kota karena ada faktor yang menarik dari kota.

Banyak migran yang berasal dari daerah dn berakibat negatif di kota, yaitu pengangguran, naiknya kriminalitas, persoalan rumah dan lain-lain.

(Febrian, Lorent, http://lorentfebrian.wordpress.com/perbedaan-masyarakat-kota-dengan-masyarakat-desa/)

 

 

 

 

 

 

B.3.8 PROSES PERKEMBANGAN BERBAGAI KELOMPOK SOSIAL

 

1.     Kelompok kekerabatan berasal dari kelompok/satuan keluarga inti, kemudian berkembang menjadi keluarga luas, yang dikenal dengan nama kerabat/kekerabat. Keluarga inti (nuclear family), keluarga luas (extended family).

 

 


 

            Prinsip Kekerabatan terbagi atas 2:

  • Unilineal : Mengitung anggota kerabat melalui 4 garis keturunan.

Unlineal dibagi menjadi 2, yaitu :

a.       Matrilineal     : mengitung anggota kerabat melalui garis keturunan ibu.

b.      Patrilineal      : menghitung anggota kerabat melalui garis keturunan ayah.

     Gb. Matrilineal                                                           Gb. Patrilineal

Contoh : Biasanya masyarakat Sumatera Barat.               Contoh : Batak, Bali, dll

  • Bilateral (Parental) : menghitung anggota kerabat melalui 2 garis keturunan.

 

Gb. Bilateral

 

Tahap-tahap Dalam Pembentukan Keluarga adalah sebagai berikut:

 

a.     Tahap formatif (pre nuptual)

Tahap sebelum perkawinan

b.     Tahap perkawinan (nuptal stage)

Yaitu tahap sesudah melakukan ijab qobul sampai tahap sebelum memiliki anak.

c.     Tahap pemeliharaan anak (child rearing stage)

Dimulai dari ketika anak lahir sampai anak dewasa

d.     Tahap keluarga dewasa (Matarity Stage)

Yaitu ketika anak-anak sudah dewasa dan sudah membentuk keluarga baru.

e.     Tahap kekerabatan

 

2.     Kelompok Okupasional / profesi

Kelompok tradisional berkembang ke modern

3.     Kelompok Volunter Suka relawan

Ex : Komite Independen Pemantau Pemilo (KIPP)

 

Faktor Pendorong Urbanisasi

a.       Sempitnya lapangan kerja di desa

b.      Adanya generasi muda yang ingin memperbaiki kehidupan dan membebaskan diri dari interaksi.

c.       Kesempatan menambah ilmu, di desa sangat terbatas

 

Faktor Penarik Urbanisasi

a.       Kota merupakan pusat kegiatan perekonomian dan pemerintahan.

b.      Kota membuka peluang lapangan kerja yang lebih banyak

c.       Kota memberi peluang yang tidak terbatas untuk mengembangkan jiwa dan potensi manusia, dll.

 

Perkembangan Masyarakat Dalam Berbagai Bidang

a.       Aspek Ekonomi Merupakan aspek yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan manusia dan sumber-sumber ekonomi yang terbatas.

b.      Aspek Sosial Kesadaran politik masyarakat kota lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat desa. Apabila terdapat perbedaan paham antar anggota masyarakat dengan para elite kekuasaan, maka masyarakat kota lebih berani melakukan protes dan kritikan sehingga kehidupan politik masyarakat lebih dinamis dan lebih kritis.

c.       Aspek Kebudayaan

Keterbukaan terhadap dunia luar serta pesatnya arus komunikasi dan globalisasi menyebabkan masyarakat kota merasa lebih modern bila mengatasi budaya asing dan mulai meninggalkan budaya tradisional.

 

Pola Relasi antar kelompok sosial menurut Calhoun

Kemungkinan pola relasi antar kelompok sosial dalam masyarakat multikultural meliputi kolonialisme, pemindahan, genosida, perbudakan, segregasi, resistensi, diskriminasi, amalgamasi, asimilasi, pluralisme, multikulturalisme.

o   Kolonialisme, adalah pengambil alihan dan penguasaan sebuah wilayah oleh kekuasaan asing dan mengisinya dengan dominasi sosial ekonomi atas masyarakat setempat (masyarakat pribumi).

o   Pemindahan, artinya penduduk asli dipindahkan tempatnya (digusur). Ex : Australia didatangi Inggris (bukan menganggap sebagai musuh tetapi sahabat) sehingga banyak warga Inggris yang datang di Australia.

o   Genosida adalah pembunuhan masal, ini dikenalkan oleh Rafael Ramkin, Ex : Pembantaian 6000 orang Yahudi oleh Jerman.

o   Perbudakan, yaitu suatu sistem perhambaan yang terlembagakan, di mana sang tuan memiliki kontrol penuh / penguasaan penuh terhadap para budak.

o   Segregasi, yaitu pemisahan kelompok ras / etnis secara paksaoleh golongan mayoritas.

o   Resistensi, yaitu suatu strategi yang dilakukan oleh kelompok minoritas untuk menghindarkan diri dari konfrontasi yang tidak mengenakkan dengan kelompok dominan, dengan jalan melakukan segregasi sendiri.

o   Diskriminasi, yaitu perlakuan tidak adil yang dilakukan secara sengaja terhadap kelompok-kelompok minoritas atau kelompok-kelompok lain.

o   Amalgamasi = hibridisasi, artinya perkawinan campuran / silang. Amalgamasi menunjuk pada hasil akhir yang diperoleh jika kelompok mayoritas dan kelompok
minoritas disatukan untuk membentuk kelompok baru melalui perkawinan.

o   Asimilasi, yaitu proses di mana seseorang / sekelompok orang meninggalkan tradisi budayanya sendiri untuk selanjutnya menjadi bagian dari kelompok budaya lain.

o   Pluralisme, yaitu suatu keadaan di mana berbagai kelompok yang berbeda baik ras, etnik / agama saling memelihara identitas budaya dan jaringan sosial, namun mereka bersama-sama berpartisipasi dalam sistem ekonomi dan politik.

o   Multikulturalisme, inti dari multikulturalisme adalah kebijakan publik yang mendorong semua kelompok budaya masyarakat untuk bersedia menerima dan memperlakukan kelompok lain secara sederajat, tanpa memperdulikan perbedaan budaya, etnis, gender, bahasa ataupun agama.

 

 

B.3.9 MASYARAKAT MULTIKULTURAL

 

Masyarakat multikulturalisme adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai kultur (budaya). Secara etimologis (asal kata) dibentuk dari kata multi (banyak) dan kultur (budaya) dan isme (aliran/paham).

Multikulturalisme adalah masyarakat dimana setiap manusia secara individu diakui harkat dan martabatnya yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaan masing-masing. Dalam pendidikan dikembangkan pedagogic kesetaraan (equity pedagogy) atau pendidikan kesetaraan.

A.    Sebab terjadinya multikulturalisme

1.      Factor geografis,faktor ini sangat mempengarudi apa dan bagaimana kebiasaan sua tu masyarakat. Maka dalam suatu daera yang memiliki kondisi geografis yang berbeda maka akan terdapat perbedaan dalam masyarakat( multikultural).

2.      Pengaruh budaya asing, mengapa budaya asing menjadi penyebab terjadinya multikultural, karena masyarakat yang sudah mengetahui budaya-budaya asing kemungkinan akan terpengaruh mind set mereka dan menjadkan perbedaan antara

3.      Kondisi iklim yang berbeda, maksudnya hampir sama denga perbedaan letak geografis suatu daerah.

 

B.     Ciri-ciri masyarakat multikultural

1.      Terjadi segmentasi, yaitu masyarakat yang terbentuk oleh bermacam-macam suku,ras,dll tapi masih memiliki pemisah. Yang biasanya pemisah itu adalah suatu konsep yang di sebut primordial. Contohnya, di Jakarta terdiri dari berbagai suku dan ras, baik itu suku dan ras dari daerah dalam negri maupun luar negri, dalam kenyataannya mereka memiliki segmen berupa ikatan primordial kedaerahaannya.

2.      Memilki struktur dalam lembaga yang non komplementer, maksudnya adalah dalam masyarakat majemuk suatu lembaga akam mengalami kesulitan dalam menjalankan atau mengatur masyarakatnya alias karena kurang lengkapnya persatuan tyang terpisah oleh segmen-segmen tertentu.

3.      Konsesnsus rendah, maksudnya adalah dalam kelembagaan pastinya perlu adany a suatu kebijakan dan keputusan. Keputusan berdasarkan kesepakatan bersama itulah yang dimaksud konsensus, berarti dalam suatu masyarakat majemuk sulit sekali dalam penganbilan keputusan.

4.      Relatif potensi ada konflik, dalam suatu masyarakat majemuk pastinya terdiri dari berbagai macam suku adat dankebiasaan masing-masing. Dalam teorinya semakin banyak perbedaan dalam suatu masyarakat, kemungkinan akan terjadinya konflik itu sangatlah tinggi dan proses peng-integrasianya juga susah.

5.      Integrasi dapat tumbuh dengan paksaan, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, bahwa dalam masyarakat multikultural itu susah sekali terjadi pengintegrasian, maka jalan alternatifnya adalah dengan cara paksaan, walaupun dengan cara seperti ini integrasi itu tidak bertahan lama.

6.      Adanya dominasi politik terhadap kelompok lain, karena dalam masyarakat multikultural terdapat segmen-segmen yang berakibat pada ingroup fiiling tinggi maka bila suaru ras atau suku memiliki suatu kekuasaan atas masyarakat itu maka dia akan mengedapankan kepentingan suku atau rasnya.

 

C.     BENTUK MASYARAKAT MULTIKULTURAL

  • INTERSEKSI

Konsep Interseksi merupakan suatu titik potong atau pertemuan. Interseksi dikenal sebagai suatu golongan etnik yang majemuk. Definisi dalam Sosiologi, interseksi adalah persilangan atau pertemuan keanggotaan suatu kelompok sosial dari berbagai seksi. Baik berupa suku, agama, jenis kelamin, kelas sosial, dan lain-lain dalam suatu masyarakat majemuk. Suatu interseksi terbentuk melalui interaksi sosial atau pergaulan yang intensif dari anggota-anggotanya melalui sarana pergaulan dalam kebudayaan manusia, antara lain bahasa, kesenian, sarana transportasi, pasar, sekolah. Dalam memanfaatkan sarana-sarana interseksi sosial itu, anggota masyarakat dari latar belakang ras, agama, suku, jenis kelamin, tingkat ekonomi, pendidikan, atau keturunan berbeda-beda dapat bersama-sama menjadi anggota suatu kelompok sosial tertentu atau menjadi penganut agama tertentu.

  • KONSOLIDASI

Konsep Suatu proses penguatan pemikiran atas kepercayaan yang telah diyakini agar kepercayaan akan sesuatu yang diyakini semakin kuat. Yang mana hal ini dilakukan oleh orang yang lebih mengerti akan kepercayaan yang dianut. Definisi Konsolidasi adalah suatu proses penguatan yang dilakukan untuk memberikan tambahan keimanan atas apa yang telah seseorang yakini, yang biasanya dilakukan oleh orang yang sudah mencapai tingkatan tertenatu. Penjelasan definisi Jadi, yang dimaksud dengan konsolidasi adalah suatu penguatan atas apa yang telah melekat pada dirinya.

(Wawan, http://wawansosiokds.wordpress.com/2011/05/30/mdinamika-kel-sosial/)